Berikan masukan yang bermanfaat untuk hasil kelompok ini! Terimakasih
A.
Pengertian CBSA
Agar terciptanya proses belajar mengajar
yang efektif, perlu adanya peninjauan mengenai hakikat guru mengajar dan siswa
belajar. Konsekuensinya proses belajar mengajar harus berorientasi pada siswa
yang belajar. Implikasinya seorang guru harus benar-benar menciptakan suasana
belajar sesuai dengan kebutuhan anak. Untuk mendifinisikan pengertian CBSA
secara tegas adalah sulit, karena dalam kondisi-kondisi mana pun, baik ditinjau
dari perbedaan kurun waktu, sudut pandang teoretis, sasaran serta isi belajar
maupun bentuk serta metode belajar seorang siswa pastilah mengandung unsur
keaktifan siswa dengan kadar berbeda-beda.
Pada tahun 1935 Jean Peaget telah menggalakkan
belajar aktif. Hakikat CBSA pada dasarnya menunjuk taraf keaktifan belajar
siswa yang relatif tinggi, usaha-usaha mengoptimalkan kegiatan belajar siswa,
dan kegiatan (aktivitas) belajar siswa tersebut tak sekedar motoris tetapi
lebih-lebih keaktifan mental serta emosional. CBSA mengandaikan kegiatan
belajar siswa yang berciri : kegiatan kognitif bertaraf tinggi, siswa
bergairah belajar (bermotivasi,
bersemangat, senang, dan ulet dalam menghadapi tantangan), dan reflektif (mawas diri, memanfaatkan jasa umpan
balik, siap untuk mengadakan pembenahan (remidial), dan pengembangan
lebih lanjut. Dengan kata lain, CBSA memusatkan pada peranan, inisiatif dan
keterlibatan anak didik dalam menetapkan masalah, mencari informasi dan
memecahkan masalah.
Pengembangan CBSA
ini berpusat pada siswa (humanistik), jadi “ student-centerted” dan mengutamakan perkembangan afektif siswa
sebagai prasyarat dan sebagai bagian integral dari proses belajar. Untuk
mewujudkan adanya pendekatan pembelajaran yang humanistik, perlu didasarkan
asumsi-asumsi, antara lain:
1.
Siswa akan lebih giat belajar bila harga dirinya dikembangkan sepenuhnya.
2.
Siswa yang diturut-sertakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pelajaran
akan merasa bertanggung jawab atas keberhasilannya.
3.
Hasil belajar akan meningkat dalam suasana belajar yang diliputi oleh rasa
saling mempercayai, saling mempercayai, saling membantu, saling mempedulikan
dan bebas dari ketegangan yang berlebihan.
4.
Guru yang berperan sebagai fasilitator belajar memberi tanggung jawab
kepada siswa atas kegiatannya belajar dan memupuk siswa positif terhadap “ apa
sebab” dan “bagaimana” mereka belajar.
5.
Kepedulian siswa akan pelajaran
memegang peranan penting dalam penguasaan bahan pelajaran itu.
6.
Evaluasi diri bagian penting dalam proses belajar yang memupuk rasa harga diri.
B.
Arah, Tujuan, dan Prinsip CBSA
1.
Arah CBSA
Tujuan pendidikan nasional adalah membentuk manusia
yang mampu berpartisipasi bagi penyempurnaan pembangunan bangsa. Pendekatan
CBSA diarahkan untuk mewujudkan tujuan tersebut.
2.
Tujuan CBSA
CBSA merupakan konsep dalam mengembangkan keaktifan
proses belajar. Tujuannya adalah untuk mengembangkan kemampuan murid agar mampu
belajar mandiri, sehingga ia memperoleh pengetahuan, ketrampilan, sikap yang
menunjang pembentukan kepribadian yang mandiri. Selain itu, dengan CBSA siswa
diharapkan dapat memperoleh penguasaan materi yang optimal. Pendekatan CBSA
juga bertujuan untuk mengembangkan pola pikir antisipatif. Hal ini didasarakan
pada kenyataan bahwa tidak semua hasil pendidikan nantinya dapat diterapkan,
yang disebabkan oleh perubahan yang sangat cepat di masyarakat. Sehingga
belajar diharapkan dapat memperoleh pengetahuan, kemampuan berpikir kritis,
logis, dan sistematis, terampil dalam menerpakan iptek, serta memiliki
kemampuan dan kebiasaan untuk terus belajar.
3.
Prinsip CBSA
Dari arah dan tujuan di atas, maka pelakasanaan CBSA
harus berpedoman dan memperhatikan pada beberapa prinsip berikut.
a.
Prinsip CBSA
secara Umum
1)
Hal apapun yang
dipelajari oleh murid, maka ia harus mempelajarinya sendiri tidak ada seorang
pun dapat melakukan kegiatan itu untuknya.
2)
Setiap murid
belajar menurut tempo (kecepatannya sendiri).
3)
Seorang murid
belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segera diberi penguatan.
4)
Penguasaan
secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih
berarti.
5)
Apabila murid
diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia lebih termotivasi
untuk belajar, ia akan belajar dan mengingat dengan lebih baik.
b.
Prinsip
CBSA Pada Dimensi Peserta Didik
1)
Keberanian peserta
didik untuk menunjukan minat, keinginan, dan dorongan yang ada pada dirinya.
2)
Keinginan dan
keberanian untuk ikut serta dalam kegiatan belajar.
3)
Usaha dan
kreativitas peserta didik.Keingintahuan yang kuat.Rasa lapang dada.
c.
Prinsip CBSA
Pada Dimensi Guru
1)
Usaha guru
membina dan mendorong peserta didik.
2)
Guru sebagai
innovator dan fasilitator.
3)
Sikap tidak
mendominasi.
4)
Memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk belajar menurut irama, cara, dan
kemampuannya.
d.
Prinsip
CBSA Pada Dimensi Program Pengajaran
1)
Tujuan
dan isi pelajaran memenuhi kebutuhan, minat serta kemampuan peserta didik.
2)
Kemungkinan
terjadinya pengembangan konsep dan aktivitas peserta didik.
3)
Penggunaan dan
pemilihan berbagai metode dan media.
4)
Penentuan metode
dan media yang fleksibel.
e.
Prinsip
CBSA Pada Dimensi Situasi Belajar Mengajar
1)
Komunikasi
guru-peserta didik yang intim dan hangat.
Prinsip
ini menunjukkan bahwa kedudukan guru dan peserta didik dalam peristiwa
komunikasi menempati posisi yang sederajat.
2)
Terjadinya
kegairahan dan kegembiraan dalam belajar.
Peserta
didik, lebih-lebih anak usia sekolah dasar masih sangat menuntut terciptanya
situasi kegairahan dan kegembiraan dalam belajar. Guru hendaknya
mempertimbangkan karakteristik peserta didik dan melakukan penyesuaian atas
situasi belajar-mengajar yang dikondisikannya.
C. Kemampuan
Peserta Didik yang Dikembangkan melalui CBSA
Pendekatan
Pembelajaran CBSA perlu dikembangkan agar kemampuan peserta didik dalam proses
belajar meningkat dari tahun ke tahun. Kemampuan
ini berupa keaktifan baik yang tampak maupun yang tidak tampak Keaktifan yang
tampak meliputi mendengar, menulis, bertanya, mengukur, membandingkan,
mengatakan, bercerita, menjawab, bercakap, berdiskusi, dan sebagainya.
Sedangkan keaktifan yang tidak tampak
seperti kemampuan berpikir, menganalisa, memecahkan masalah dengan
menggunakan prinsip, teori, dan konsep. Kedua keaktifan tersebut tidak dapat
dipisahkan, dimana keduanya membentuk proses pengembangan Pemerolehan dan
penguasaan kemampuan tersebut akan tercapai apabila siswa aktif dalam proses
belajar serta dalam proses penyaringan dan pemaduan sikap dan nilai, yang pada
akhirnya akan berbuah pembentukan sikap dan nilai pada diri siswa.
Alternatif-alternatif
yang dapat digunakan untuk menjadikan siswa aktif dalam pembelajaran:
·
Proses belajar satu kelas penuh, pengajaran yang
dipimpin oleh guru yang menstimulasi seluruh siswa.
·
Diskusi kelas,
dialog dan debat tentang persoalan-persoalan utama.
·
Pengajuan
pertanyaan, siswa meminta penjelasan.
·
Kegiatan
kolaboratif, tugas dikerjakan secara bersama dalam kelompok kecil.
·
Pengajaran oleh
teman sekelas, pengajaran yang dilakukan oleh siswa sendiri.
·
Kegiatan belajar
mandiri, aktifitas belajar yang dilakukan secar perseorangan.
·
Kegiatan belajar
aktif, kegiatan yang membantu siswa memahami perasaan, nilai-nilai, dan sikap
mereka.
·
Pengembangan keterampilan, memepelajari dan mempraktikkan
keterampilan baik teknis maupun non-teknis.
D.
Cara Pengembangan CBSA Di Sekolah Dasar
Pengembangan KBM menuntut pembelajaran
yang terpadu, penyusunan unit sumber yang mencakup bahan kegiatan belajar,
model, metode dan sumber-sumber yang sangat luas dan berdaya guna. Pelaksanaan
KBM secara kondusif tentunya dipengaruhi oleh guru dan siswa yang membawa
konsekuensi untuk melaksanakan peranannya dengan amanah dan bertanggung jawab.
Sumber pembelajaran dapat diperoleh
lingkungan alam sekolah, masyarakat di sekitar sekolah dengan sarat kehidupan
dan peraturannya. Pemanfaatan sarana yang ada di lingkungan dapat mengembangkan
pengalaman murid dalam kehidupannya sehingga apa yang dipelajari akan lebih
bermakna. Penggunaan lingkungan sebagai sarana dan bahan belajar mengingatkan
kita akan pentingnya interaksi siswa dengan lingkungan dengan segala
persoalannya sehingga diharapkan murid akan terangsang untuk memantapkan
peranannya dalam masyarakat. Kaitannya dengan pembelajaran bersama masyarakat,
dapat dilakukan community study, walking trips, ataupun field study.
Sedangkan pemanfaatan bahan-bahan bekas,
dapat dijadikan media pembelajaran ataupun sekedar alat peraga. Melalui
pemanfaatan tersebut, selain dapat mengefisienkan anggaran juga merupakan
tantangan tersendiri bagi guru serta murid dalam mengembangkan
kekreativitasannya. Selanjutnya, diharapkan dapat terbentuk siswa yang
mempunyai pola pikir produktif bukan konsumerisme sejati.
Selanjutnya, model pengajaran
mensyaratkan pemeberian tugas dan pengamatan cara siswa merespon tugas yang
diberikan. Model pengajaran terdiri atas tiga fase: fase pertama, pada siswa
disajikan suatu situasi yang mengandung teka-teki yang sesuai dengan perkembangannya
dan ada unsur-unsur yang sudah dikenalnya untuk memudahkan merespon. Fase
kedua, respon siswa ditelaah untuk menentukan tahap perkembangan akalnya
melalui pengamatan cara mereka berpendapat. Fase ketiga, adalah fase transfer,
dengan tujuan mengetahui apakah siswa memberikan respon yang sama kepada tugas
yang sama. Pada dasarnya, model pengajaran harus menciptakan suasana yang
menunjang agar siswa merasa bebas untuk merespon secara alami dan berdya guna
dengan selalu difasilitatori oleh guru.
E. Organisasi
Pengajaran pada Pendekatan CBSA
Keaktifan dalam melaksanakan KBM tidak
harus dilaksanakan dengan diskusi/ kerja kelompok, akan tetapi dikembangkan
dengan problem-problem sehingga merangsang anak untuk senantiasa senang, cinta,
butuh/need, berfikir, memecahkan problem dan berkreasi. Pengajaran dapat
diorganisasikan secara individual, kelompok, dan berpasangan. Pengelompokan
perlu diperhatikan besar kelompok, organisasi kelompok, sifat kelompok, dan
tujuan kelompok. Dalam membuat kelompok harus memperhatikan kemauan anak, minat
bakat, dan prestasi belajar. Pengelompokkan berdasarkan kelompok yang terdiri
dari siswa yang prestasi belajarnya baik semua,
maka anak tersebut aka akan berkembang dengan baik. Namun kelemahannya
terjadi pada kelompok anak yang anggotanya semua terdiri dari anak didik yang
kurang mapu menerima pelajaran dengan baik, maka kelompoknya akan sulit
berkembang, dan pertukaran pengetahuannya akan sedikit terhambat.
Dan pengelompokkan yang didasarkan pada
pemerataan antara anak didik yang pintar dan anak didik yang kurang mampu
menerima pelajaran dengan baik, diseimbangkan. Keuntungannya adalah anak yang
pintar akan bisa memberikan motivasi kepada temannya yang kurang mampu untuk
bertukar pengetahuan sehingga dapat saling melengkapi. Kekurangannya adalah
anak didik yang kurang mampu menerima pelajaran dengan baik itu, akan merasa
kurang percaya diri, dengan anak yang pintar tersebut.
F.
Ciri-ciri Sekolah yang Menerapkan CBSA dengan Baik
Sekolah
yang memiliki CBSA yang baik menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Pembelajaran yang dilaksanakan berpusat pada
kepentingan peserta didik. Peserta didik dipandang sebagai komponen terpenting
dalam sistem dan proses pengajaran. Karena itu peranannya menjadi lebih kuat
dalam mengembangkan dan menentukkan cara-cara belajarnya. Mereka mempunyai
peluang untuk berperan aktif dalam menetapkan rencana pelajaran, proses
kegiatan belajar, dan penilaian yang dilakukan. Pengalaman belajar mereka
benarr-benar menjadi titik tolak kegiatan belajar mengajar. Peserta didik
dimungkinkan menajdi lebih mandiri dalam menempuh kegiatan belajarnya.
2. Guru berperan sebagai pembimbing bagi terjadinya
pengalaman belajar peserta didik. Guru sebagai pembimbing tidak pernah mendikte
si anak. Sebaliknya anak-anak itu memperoleh peluang, kemudahan, dan dorongan
untuk berbuat banyak dalam belajar. Mereka memperoleh pengetahuan,
keterampilan, dan pengalaman belajarnya yang berharga melalui usahanya sendiri.
Guru senantiasa mensiasati peserta didiknya agar mereka selalu memiliki
motivasi untuk belajar terus.
3. Tujuan kegiatan belajar berorientasi pada perkembangan
kemampuan siswa secara utuh dan seimbang. Peserta didik belajar bukan hanya
mencapai standar akademik saja melainkan menyangkut seluruh aspek kehidupan
secara utuh dan seimbang. Ini berarti menyangkut segi wawasan pengetahuannya,
keterampilan yang dimilikinya, sikap yang dibentuknya, kepercayaan akan
nilai-nilai yang diyakininya, struktur emosi yang dipunyainya, rasa keindahan
atau estetikanya yang dikembangkannya, dan lain-lain. Semua aspek
kepribadiannya dikembangkan secara menyeluruh dan terpadu melalui kegiatan
belajar yang diciptakan guru.
4. Penyelenggaraan kegiatan belajar lebih berorientasi
pada kreativitas peserta didik. Kegiatan belajar yang diciptakan guru sangatlah
dituntut untuk menghadapi berbagai permasalahan dan mengarahkan mereka untuk
mampu mencari pemecahannya. Ini berarti peserta didik dituntut untuk terbiasa
bekerja keras dengan penuh kesungguhan sehingga menghasilkan karya-karya nyata
yang bermanfaat.
5. Penilaian diarahkan pada kegiatan dan kemajuan peserta
didik. Proses penilaian yang dilakukan benar-benar memantau setiap kegiatan
belajar yang dilakukan peserta didik dan mengukur setiap bentuk kemajuan yang
diraih. Berbagai keterampilan seperti berbahasa, sosial, matematika, berpikir,
bertindak, keterampilan dalam proses belajar itu sendiri senantiasa mendapat
pertimbangan penilaian.
Melvin L. Silberman. 2009. Active Learning 101 Cara Belajar Siswa
Aktif. Bandung : Nusa Media.
Padmono. 2010. Pengembangan Inovasi Kurikulum. Surakarta
: Universitas Sebelas Maret.
Permana, Johar. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : CV
Maulana.
S. Nasution.
2006. Kurikulum dan Pengajaran.
Jakarta: PT. Bumi Aksara.
0 comments:
Post a Comment